The Imitation Game, Behind Every Code is an Enigma

Winston Churchill menjadi penyumbang jasa tunggal terbesar dalam mengalahkan Nazi  erman di PD II, sayangnya bukanlah penghargaan yang diberikan Britania Raya kepada Alan Turing, melainkan tuntutan dan hukuman mengerikan atas kesalahan yang tak diperbuatnya: menjadi seorang homoseksual. Biopik sang matematikawan yang tertuang dalam buku Alan Turing: The Enigma tulisan Andrew Hodges kemudian diadaptasi ke dalam sebuah skenario karya , scriptwriter first-timer Graham Moore yang mampu memuncaki Black List 2011 sebagai skrip Hollywood terbaik yang belum diproduksi.

Matematikawan yang dianugerahi Royal Pardon (penghapusan tindak kriminal – red) oleh Britania Raya pada 24 Desember 2013 ini diperankan BenedictCumberbatch dalam film yang menuturkan perpacuan Turing dan tim dengan waktu di institusi rahasia Government Code and Cypher School pada masa tergelap PD II ini. yang mengambil The Imitation Game judulnya dari tes yang diajukan Turing pada tahun 1950 dalam karya ilmiahnya mengenai intelegensi buatan ini menjabarkan sejumlah periode penting dalam hidup Turing, dari masa remajanya di asrama, keberhasilannya menciptakan bombe elektro-mekanis yang mampu memecahkan 3.000 kode Enigma (mesin pembuat dan pemecah kode – red) dalam sehari, hingga tragedi yang mengiringinya pasca dicap sebagai pelanggar hukum atas homoseksualitas yang masih dianggap sebagai sebuah tindak kriminal di Britania Raya pada masa itu.

Sempat menarik minat Leonardo DiCaprio hinggaWarner Bros. dilaporkan membeli skripnya dengan nominal tujuh pada tahun 2011 digit silam, proyek yang semula sempat melibatkan David Yates dan Ron Howard ini lalu berpindah tangan pada Black Bear Pictures dan mendaulat sineas Norwegia, Morten Tyldum sebagai sutradaranya― menjadikan biopik ini sebagai film berbahasa Inggris pertamanya.

Hak distribusinya di Amerika bahkan diperebutkan oleh lima studio dan dimenangkan TheWeinstein Company seharga $7 juta― nominal tertinggi yang tercatat di Pasar Film Eropa untuk hak peredaran di Amerika―yang tak sia-sia karena respon positif dan penghargaan yang diterimanya, termasuk memenangkan People's Choice Award for Best Film, penghargaan tertinggi di TIFF 2014. Penampilan luar biasa Cumberbatch di sini menunjukkan kualitas tinggi yang dinilai belum pernah ia perlihatkan sebelumnya, dan penyutradaraan Tyldum turut membantu menampilkan Turing sebagai tokoh kompleks yang tak semata-mata didefinisikan lewat orientasi seksualnya saja, melainkan sebagai pribadi utuh yang juga berjuang dengan kemanusiaannya.

 Kisahnya sendiri tergolong cukup ringan dengan sejumlah dialog yang masih dinilai kaku, dan bahkan tak luput dari anggapan sebagian kalangan yang justru menilai film ini seperti cenderung menghindari subjek homoseksualitas Turing sendiri, namun The Imitation Game tetaplah sebuah film tentang rahasia, kebohongan, serta pengorbanan yang menarik dan tampil kuat nan tragis. Smell Oscar? ['Nez]



The Imitation Game, Behind Every Code is an Enigma